Horas Ma di hita sude Parmatiti Napuran tano-tano rangging marsiranggongan, Badan ta i padao-dao, tondita i marsigomgoman.
 

parmatiti parmatiti Author
Title: Kelas Lima SD Baru Bisa Membaca
Author: parmatiti
Rating 5 of 5 Des:
Kelas Lima SD Baru Bisa Membaca Saya tertinggal jauh...kelas lima sekolah dasar (SD) baru lancar membaca. Foto ini adalah saat...




Kelas Lima SD Baru Bisa Membaca

Saya tertinggal jauh...kelas lima sekolah dasar (SD) baru lancar membaca. Foto ini adalah saat saya kelas lima SD. Kecil. Saya memang degil dan kecil. Teman-teman di SD menyebut saya “kancil” karena kecil. Saya tak malu mengakui, bahwa memang “kancil” baru bisa lancar membaca di kelas 5 SD. Satu hal agak janggal memang, di masa itu teman-teman sebantaran saya di kelas 2 SD sudah lancar membaca. Ironi perjalanan kehidupan saya. Anak pertama dari enam bersaudara. Tentu bukan meratapi masa lalu atau bukan untuk menangisinya, dan bukan juga untuk bernostalia. Namun bagi saya, masa lalu adalah bekal untuk menatap masa depan.

Saya telat bisa membaca oleh karena kehidupan keluarga yang amat miskin. Oleh karena faktor ekonomi, saat saya menjelang sekolah, menginjak kelas satu SD, orangtua merantau bersama empat adik saya (Harjono Pandapotan, Rigson Herianto, Lelly Ewisdahlia, Martin Manaritua), merantau ke Pekan Baru. Tampak foto adalah kedua orangtua Bapak Jaherbit Lumban Gaol & Ibu Tionel br Siburian bersama empat adik saya berfose di depan rumah di perumahan perkebunan, tahun 1985. Anak bungsu, Endang saat itu belum lahir. Saya anak pertama dari enam bersaudara, empat laki-laki dua perempuan. Kedua adik perempuan saya ini belum sempat berumah tangga sudah dipanggil Tuhan. Meninggal sudah gadis. Kisah ini saya ceritakan tersendiri.

Sebagai anak paling besar, karena orangtua menguji nasib, saya justru ditinggalkan bersama kakek-nenek di kampung. Kakek saya bernama Maruli Lumban Gaol dan Tierli boru Sitorus Pane, nenek saya. Keduanya, petani yang tuna aksara. Tentulah tak bisa mengajari saya membaca, apalagi menulis. Saya sangat dekat, sebagai cucu tertua sedikit saya agak dimanja. Kakek saya walau tuna aksara tetapi jago catur. Bila dia dengan temannya sedang asik main catur, saya kerap menggangu apalagi jika tak memenuhi permintaan saya. Anak caturnya langsung saya kibas berantakan. Kalau sudah demikian dia katakan, “baba nion, dang adong adatmu.” Tetapi seingat saya, sampai Tuhan memuliakannya, meninggal ketika saya di kelas empat SD, dia tak pernah memukul saya.

Sementara nenek saya juga agak memanjakan saya. Usia hidupnya dari suaminya berpaut jauh. Nenek saya meninggal ketika saya sudah merantau di Jakarta. Seingat saya, di SD Inpres 174533 Matiti dimana saya sekolah, walau tak bisa baca-tulis, saya selalu naik kelas. Ada satu kisah di masa kecil yang tak pernah lekang di ingatan saya, saat saya memperjuangkan kenaikan kelas dari kelas dua ke kelas tiga. Ketika itu menerima raport kenaikan kelas, saya dinyatakan tidak naik kelas. Saat itu saya menangis menjerit. Tetapi setelah tahu ada teman sekelas ada nilainya lebih jelek dari saya tetapi naik kelas. Saya merasa guru pilih kasih.

Di saat-saat seperti itulah saya sangat terluka. Anak sekecil itu harus berjuang untuk memperjuangkan nasibnya sendiri karena orangtua jauh sedangkan kakek dan nenek tak terlalu mau melibatkan diri soal sekolah cucunya. Walau juga pernah, saya ingat di masa itu, saya dikembalikan guru karena belum melunasi biaya sekolah sebesar Rp. 350 sebulan. Karena saya dipulangkan dari sekolah, kakek saya membawa saya ke toke keminyaan untuk meminjam uang, karena dia adalah petani keminyaan. Kembali soal perjuangan naik kelas, atas hal itu saya menghadap wali kelas yang kebetulan semarga dengan saya, menanyakan perihal saya tidak naik kelas. Saya bertanya “Ibu, mengapa saya tinggal kelas, padahal si anu yang nilainya lebih jelek dari saya ibu naikkan?” Saya memberanikan diri. Namun ibu guru dengan bijak dan menjawab pertanyaan saya dengan baik sekali.

Entah kasihan atau memang benar salah tulis, beliau bilang, “Oh, maaf. Saya salah tulis. Kamu naik kelas kok.” Jawaban yang sungguh melegakan. Di saat itu saya merasakan kelegaan. Walau getir berjuang, yang terbayang waktu itu, seandainya kedua orangtua ada bersama saya niscaya akan membesarkan hati saya. Di saat itu ada perasaan “benci” kepada orangtua atas tindakan mereka. Sekarang di masa tua mereka, saya sangat bangga atas perjuangan mereka untuk membesarkan anak-anaknya. Kini keduanya masih sehat walafiat dan telah mendapat sembilan cucu dari pernikahan keempat anak laki-lakinya. Namun dulu, di masa itu, pertanyaan bocah, mengapa saya ditinggalkan, tak dibawah merantau. Tentu alasan waktu itu karena saya sudah sekolah sedangkan adik-adik saya belum sekolah dan di perkebunan sawit itu belum ada sekolah. Perasaan benci dan terluka kepada orangtua waktu itu ada.

Belakangan setelah dewasa dan berkeluarga saya pernah membaca satu penelitian ilmiah, dampak secara psikologi anak yang ditinggal orangtuanya merantau ke luar kota. Dari hasil peneliti itu, anak yang ditinggal orangtua merantau memiliki karakter tertutup. Susah bergaul dengan teman sebayanya. Kesimpulannya anak yang ditinggal orangtuanya merantau membawa dampak terhadap psikologi pada anak. Anak menunjukkan sikap jadi pendiam, minder dan tertutup.

Alih-alih hasil penelitian itu juga menyebut, sikap anak yang susah bergaul dan kurang akrab dengan teman satu kelas dan juga minder dengan teman-temannya sehingga muncul sikap kesenjangan dengan teman, dan juga bisa mempunyai hubungan yang kurang baik dalam berkomunikasi dengan teman-temannya dan anak juga menunjukkan sikap yang kurang baik, tidak sopan dan mengarah pada kenakalan. Dampaknya tentu, prestasi si anak yang kurang baik. Anak bisa tidak naik kelas dan nilai raport kurang memuaskan, tentu itu disebabkan karena kurangnya perhatian dari keluarga, orangtua. Sementara anak yang mendapat prestasi umumnya anak yang dibesarkan orangtua dan terjalin hubungan yang baik antara anak dengan orangtua.

Artinya ada motivasi dan dukungan dari orangtua. Terhadap penelitian itu, saya amini banyak benarnya, tetapi tentu tak semuanya benar. Saya justru, waktu itu, merasa bahwa saya tak dianggap anak oleh orangtua. Saya kecewa. Hampir empat tahun ditinggalkan, dan mereka kembali karena si kakek sudah sakit-sakitan. Tetapi, menurut cerita ibu alasan mereka kembali, dia terbawa mimpi, saya mengetok pintu untuk minta pintu dibukakan. Lalu, ibu saya terbangun dan membuka pintu ternyata saya tak ada. Saat itu ibu saya menangis menjerit mengingat anak pertamanya jauh dari mereka. Alasan itu menguatkan mereka kembali dari Pekan Baru.

Setelah kedua orangtua dan adik-adik saya pulang kampung, ibu prihatin atas prestasi saya di sekolah dan giat mengajari saya membaca. Saya baru bisa membaca menjelang kelas lima SD. Terlambat bisa membaca namun ada hikmatnya, setelah mulai lancar, saya jadi suka baca. Penyuka buku. Jadi pencium bau kertas. Kesukaan membaca itu mulai menemukan tempatnya ketika mengenal perpustakaan di SMP.

Puncaknya ketika sekolah di STM Negeri Dolok Sanggul. Mulai sekolah tahun 1993 dan lulus tahun 1996. Waktu pendaftaran di STM, Kepala Sekolah waktu itu mewajibkan setiap siswa yang baru masuk wajib meminjam 20 judul buku perpustakaan. Jika tidak akan didenda. Saya pun meminjam lebih banyak buku bacaan yang tak ada hubungannya dengan mata pelajaran. Walau sekolah di STM yang saya baca buku sastra, bukan buku yang berkaitan dengan mata pelajaran STM, jurusan Mekanika Teknik. Seingat saya di STM-lah justru mulai kesukaan membaca saya menemukan muaranya. (Hojot Marluga)

Tentang Penulis

Boa""

Comments
0 Comments

Posting Komentar

 
Top