Horas Ma di hita sude Parmatiti Napuran tano-tano rangging marsiranggongan, Badan ta i padao-dao, tondita i marsigomgoman.
 

parmatiti parmatiti Author
Title: Petik Hikmat, Pahami Problem
Author: parmatiti
Rating 5 of 5 Des:
Oleh:  Hojot Marluga Jikalau kita mendapati di kehidupan ini problem, tentu hal itu bukan untuk digerutui, tetapi disadari untuk memper...
Jikalau kita mendapati di kehidupan ini problem, tentu hal itu bukan untuk digerutui, tetapi disadari untuk memperbaiki diri menemukan hikmat. Bicara problem itu artinya kita diuji. Orang yang lulus jadi teruji. Tak baik mempersalahkan keadaan atau Tuhan jika ada problem menyertai kehidupan kita. Penting kita selidiki mengapa itu terjadi, terutama lagi bagaimana kita beranjak untuk lebih arif.
Jadi, apa itu problem? Ketidaksesuaian antara harapan dengan kenyataan, bahkan ada yang mengartikan sebagai tak terpenuhinya kebutuhan diri seseorang. Tentu perkara yang datang itu bisa jadi karena kesalahan kita, bisa memang benar-benar diuji oleh Tuhan. Ada juga kesulitan oleh karena interaksi sosial kita dengan orang lain. Lagi-lagi perlu kita tahu, bahwa problem yang lebih banyak datangnya dari diri kita. Mengapa? Karena kita tak selalu belajar dari setiap keadaan yang ada, mungkin karena kekurangdisipilinan kita atau kesalahan kita.
Alih-alih problem salah satu hal yang mengajarkan kita hikmat. Tentu, ada beberapa cara dan hikmat yang bisa kita ambil, sehingga cobaan yang kita beri label, berganti membawa kebahagiaan. Bahwa pertolongan itu datang bersama kesabaran, sikap diri menemukan solusi. Karenanya, perlu ditanya masalah bermula dari mana? Apakah masalah tiba-tiba, atau ujian Tuhan, atau karena kesalahan diri kita? Tentu, apapun problem yang datang silih berganti itu, jika tak mawas diri kita bisa terjerembab. Bisa jadi masalah yang satu berlalu datang problem yang lain. Semua ini disebabkan lemahnya kesadaran kita, tak peka atau kata lain tak berbijaksana.
Butuh kesabaran
Kesabaran datang dari diri sendiri. Disini dibutuhkan sikap ketika menghadapi problem. Perlu kesadarana bahwa Tuhan bersama kita. Masalah ada untuk lebih membuat kita kuat, dan bijaksana menjalani kehidupan. Sebesar apapun masalah dalam hidup kita, mari berserah kepadaNya. Disinilah attitude, sikap kita diuji dalam menghadapi kesulitan. Olehnya jangan pernah mengeluh sesulit apapun masalah dan keadaan yang dihadapi. Petik hikmat. Sebab kebahagiaan datang bersama kesabaran dan perginya.
Tatkala kita mengalami masalah yang bertubi-tubi menyerang diri kita, kita memetik hikmatNya. Kenyataan yang tak terbantahkan bahwa kesulitan itu untuk kesempatan memperbaiki diri, untuk bertumbuh dan memperbaiki diri. Kita tak bisa, tak mampu, atau tak sanggup tiap kali menemui kesulitan tanpa berserah kepadaNya. Pertanyaan kemudian, mengapa kita sering mengalami kesulitan dalam meraih tujuan hidup? Di atas sudah dijelaskan, bahwa kegagalan atau masalah hadir menghampiri sembilan puluh persen disebabkan oleh diri sendiri.
Nyatanya kesuksesan juga demikian, semua faktornya oleh diri sendiri. Kesulitan dan penderitaan dari dalam diri. Tentang diri kita supaya kita mau mengevaluasi dan memperbaiki diri. Disinilah kita perlu mengenal diri sendiri, perlu ada kontrol internal, cara agar kita bisa memandang diri sendiri, jika kesulitan datang menghadang. Jangan lupa, masalah terbanyak datang dari diri sendiri, bukan dari luar.
Jangan mengulangi kesalahan yang telah lalu, tetapi belajarlah dari kesalahan untuk memperbaiki diri. Dimulai menenangkan diri, lalu merendahkan hati, dan meyakin diri, bahwa kita mampu dan bisa memperbaiki semua situasi yang kita alami. Jikapun menemukan keruwetan, kita temukan hikmat, kita akan dimudahkan untuk segera menemukan jalan keluarnya. Saat itu juga kita diberikan kesulitan, kesedihan, musibah, kehilangan akan memperbaiki kita terutama memperbaiki hubungan dengan Tuhan dan dengan sesama.
Ingatlah setelah hujan akan datang pelangi, sesudah kesulitan selalu ada kemudahan asal kita terus memperbaiki diri dengan kebijaksaan. Masalah itu Tuhan izinkan tentu agar kita bertumbuh. Tuhan sengaja mengizinkan bukan mendatangkan kesulitan, jelas tujuannya untuk memperbaiki diri kita. Tinggal sekarang kita, apakah kita menjadikan kesulitan tersebut peluang untuk memperbaiki diri, atau tidak? Kita tak memiliki kendali atas orang dan situasi di luar diri kita, tetapi kita memiliki kendali penuh atas diri kita sendiri.
Tentu untuk bisa menemukan solusi kita mesti memahami dirinya sendiri terlebih dahulu. Bahwa konsep diri, cara pandang dan sikap seseorang terhadap diri sendiri itu turut menentukan. Keinginan dan kemampuan dalam memperbaiki diri sendiri itulah yang terbaik. Tetapi, tak menampik banyak orang yang cenderung lebih pesimistik dan sulit melihat kesempatan dalam kesulitan. Jika oleh masalah menimpa kita, kita mulai dengan memperbaiki diri untuk hidup, sesegera mungkin meski kita merasa kesulitan.
Kiatnya
Cara hebat membuka kunci kekuatan, memperbaiki diri. Tatkala kesulitan menyengat dan darinya kita belajar. Problem mesti diterima sebagai konsekwensi semasih hidup. Hanya orang hidup yang mendapat kesulitan. Itu sebab orang yang hidup tak mungkin bebas darinya. Disinilah perlu kesabaran menjadi salah satu rumusnya, bahwa masalah dalam hidup memang kadang kala terasa berat.
Tetapi saat kesulitan menyengat, orang yang antusias akan bertahan. Kiat mengatasinya dan sangat efektif adalah gigih menemukan makna di baliknya. Caranya? Asal diri mau menjadi arif, bijaksana, kita melakukan pendekatan sedemikian rupa, sehingga berpijak pada kebenaran, kejujuran, dengan tetap rendah hati untuk mencari kiatnya. Akhirnya, kita mesti memetik pelajaran berharga dari suatu kejadian yang kita alami. Disinilah masalah jadi sebuah anugerah di mana kita bisa mendapatkan hikmat darinya.
Kenyataan yang Tuhan hadirkan dalam hidup kita, tentulah tak selalu lurus dan taklah selalu membuat diri kita merasa lebih baik. Nun di balik semua masalah pasti ada hikmahnya, dan bagi orang yang tercerdaskan akan kreatif, mampu mengubah kerugian menjadi keuntungan. Buntung menjadi keuntungan. Problem memberi hikmah, guru dalam kehidupan. Disinilah perlu memetik hikmah untuk menebar masalah. Butuh rasa percaya diri untuk mengatasinya, namun tak tafakur menyikapinya, namun bukan menghindari, tetapi memetik hikmah darinya.
Penulis, Pegiat Penerbit dan Motivator (Sertified Theocentric Motivator),

Tentang Penulis

Boa""

Comments
0 Comments

Posting Komentar

 
Top