Horas Ma di hita sude Parmatiti Napuran tano-tano rangging marsiranggongan, Badan ta i padao-dao, tondita i marsigomgoman.
 

parmatiti parmatiti Author
Title: BERITA DUKA CITA - MINGGU 30 DESEMBER 2018
Author: parmatiti
Rating 5 of 5 Des:
Berita dukacita nunga parjolo dialap Tuhanta sada Ama Sian Hutanta matiti,  ima Natua - tua nami Jumongga Matondang  jam 4.30 nassogot di RS...
Berita dukacita nunga parjolo dialap Tuhanta sada Ama Sian Hutanta matiti,  ima Natua - tua nami Jumongga Matondang  jam 4.30 nassogot di RS Siloam, rumah duka  di jalan perak raya no 5 ,  Perum 2 Tangerang,  Sai di pargogoi ma Angka keluarga naditinggalhon. mauliate







Berita kematian selalu mengingatkan diri ini untuk kembali melihat kedua telapak tangan. Selalu jelas di telapak tangan ini terlihat garis M. Persis seperti huruf M. Momento Mori yang dalam bahasa Latin diterjemahkan ingat hari kematianmu. 

Barusan kabar dimuliakan Tuhan di sisinya Jumongga Matondang yang dikenal dengan nama kesohornya Kopral. Kabar itu, sedih bercampur aduk. Kemarin kabar dia sakit sudah saya dengar, tetapi untuk menjeguk urung, karena berbagai pekerjaan. 

Rumah orangtua kami berhadap-hadapan di Lumban Tua, Matiti. Di masa kecil walau umur kami berpaut 5 tahun, dia lebih tua, kami sering bermain bersama. Sepermainan. Kami kerap bersama kalau ke ladang dan ke sawah. Orang pintar dan berjiwa guru. Dia sering mengajari saya mata pelajaran sejarah. Saya sapa dia Tulang. Sebenarnya kalau dari marganya Matondang saya harus memanggil lae, tetapi dari ibunya Simanullang, yang dipanggil ibu saya inang, karena tulang dari ibu saya, Sigalingging, menikah dengan boru Simanullang yang masih saudara dengan ibunya.

Kopral-jono

Sebagaimana kisah saya di atas, amarhum teman sepermainan. Dia sering mengerjai kami, terutama adik saya. Adik saya bernama Harjono, kami panggil Jono kerap kali mendapat pertanyaan iseng darinya.Dia tanya kepada Jono. “Mengapa kau lahir dengan abangmu?” Jono menjawab polos. Jawab anak kecil. “Karena mamaku suka makan sayur. Maka saya sehat. Maka abang dan saya lahir,” jawab adik saya Jono dengan polos. Atas jawaban itu dia terbahak-bahak karena bukan itu jawabannya, tetapi adik saya belum memahaminya. Bagi saya dia adalah orang yang pintar. Sering mengajari anak-anak kecil sebantaran saya mata pelajaran sekolah. Setelah lulus SMA dia merantau ke Jakarta.

Tahun 1996, saya merantau ke Bekasi. Tahun 2000-an di Jakarta kami kembali berjumpa. Aktif di komunitas pemuda dari Matiti. Kami pernah menggelar konser musik di GOR Kota Tangerang yang diselenggarakan Parnamas, saat itu saya sebagai ketua, sementara dia ketua panitia. Hanya saja acara itu merugi walau bejibun yang hadir. Ada kecurangan. Tenyata tiket digandakan. Saya kecewa waktu itu. Tetapi hingga sekarang tak jelas siapa yang mengerjai hal itu. 

Saya dengar dia pernah masuk geng dan katanya menjadi ahli strategi di gengnya. Tetapi bukan membahas masa lalunya. Setahu saya dia sempat aktif dengan berbagai persekutuan doa, dan sempat melayani, bahkan hampir kuliah teologia. Tetapi entah alasan apa dia tinggalkan, kemudian bergabung dengan komunitas pengacara, lalu dekat dengan LSM dan aktif politik. Terakhir, sebelum menikah, saya dengar dia mendirikan Forum Komunikasi Naposo Bulung Tapanuli Tangerang (Fokomnapa). Dan menjadi wiraswasta.

Terlalu panjang kisahnya….

Takdir telah memanggil lebih dahulu menghadapNya. Tentu tak ada yang luput dari giliran itu.Tak ada lagi kalimat yang terucap, selain,  semoga keluarga dan anak-anaknya tabah. Selamat jalan tulang Kopral. Tuhan telah memuliakanmu. Tenanglah di sisinya. Tugasmu sudah selesai. Saya diingatkan agar juga mengingat hari kematian kelak.

Hojot Marluga


Tentang Penulis

Boa""

Comments
0 Comments

Posting Komentar

 
Top