Horas Ma di hita sude Parmatiti Napuran tano-tano rangging marsiranggongan, Badan ta i padao-dao, tondita i marsigomgoman.
 

parmatiti parmatiti Author
Title: BUAH MENYESAL
Author: parmatiti
Rating 5 of 5 Des:
Oleh: Hojot Marluga Pembelajaran hidup yang paling nikmat sesungguhnya tatkala kita bisa memetik makna dari kegagalan. Kita tentu...


Oleh: Hojot Marluga

Pembelajaran hidup yang paling nikmat sesungguhnya tatkala kita bisa memetik makna dari kegagalan. Kita tentu sepakat jagat ini bulat, ada perputaran dinamis. Ada yang menyebutnya bak “roda pedati.” Berputar terus menerus. Terkadang yang di atas menjadi ke bawah. Memiriskan memang jika seseorang tak sadar bahwa kehidupan tak abadi, yang pernah berjaya pada waktunya juga akan hanyalah cerita. Filosofisnya, yang di atas itu tidak selalu di atas. Bagi setiap kita,  di jagat ini tentulah pernah bergelut pada penyelesalan. Penyelesalan, selalu datang terlambat. Di tataran lain, penyesalan selalu membawa rasa bersalah.

Kelewatlah jika tak memetik makna dari rasa bersalah, memperbaiki habitus. Paling tidak penyesalan mesti membawa makna penting, perbaikan, perubahan yang lebih tarap lagi. Pertama, rasa bersalah membantu kita mengkritik diri. “Pengalaman masa lalu yang buruk dijadikan sebagai alasan berubah, berubah untuk lebih baik. Tak lagi mengulangi kesalahan yang lalu.”Penyesalan yang demikian membawa bekal pembaharuan, perbaikan.

Orang yang tak bisa memetik hikmah dari masa lalunya, kesalahan masa lalu, memaafkan masa lalunya, sudah pasti jiwanya mati suri, terkungkung pada hantu masa lalu. Nuraninya tak mampu menysukuri hidup hari ini. Bahkan, batinnya bimbang dan pengap. Masa depan yang masih bening di hadapannya menjadi buram danpelatarannya muram. Intinya, menyesal sembari belajar dari kesalahan masa yang lalu. Tak lagi terjerembab apalagi tersandera, dijajah kubangan yang itu-itu pula. Di titik ini penyesalan itu positif, memberi perbaikan diri.

Namun, yang paling naif ada semacam penyesalan, destruktif, berdampak negatif. Menjurus pada penyesalan yang merusak, menggerogoti kekebalan mental. Sesal yang tak bisa memetik makna dari kesalahan di masa lalu. Gagal move on, gagal beranjak, berputar-putar pada lingkaran yang sama. Dan paling satir lagi selalu bernostalgia. Melunglasi melempem, merusak mental, destruktif. Yang ada rasa tak ada percaya diri. Menerima bahwa pengalaman kegagalan adalah bagian nasib yang tak bisa diubah. Padahal, jika kita menyingkap penyesalan, hal itu memaknakan jiwa yang rendah hati. Sadar diri lemah, tetapi terus menggelorakan batin untuk senantiasa menjadikan kesulitan sebagai penampi bijaksana, membawa cerdik nan tercerahkan.
Sungguh, makna terdalam dari menyesal adalah penyadari diri tak sempurna. Tahu diri ada kekurangan. Tetapi lebih dari itu, ada semacam spirit pembelajar. Tak berhenti di ruang itu, ia terus meranjak pada ruang-ruang yang lebih dalam, penyesalan membawa perbaikan. Penyesalan menjadi motivator, bermetanoia hingga bermetamorfosa. Berubah pola pikiran yang lama ke pikiran yang baru.  Alih-alih menggugat diri itu penting, seperti kritik menjadi obat yang bermanfaat. Ibarat obat, tentu dengan dosis yang tepat dan terukur akan membawa penyembuhan batin. Efek dampaknya? Memetik hikmah dalam setiap pengalaman hidup.
Akhirnya, mari menyesal bukan dalam rangka menggerutui diri, namun intens menggugat diri untuk terus lebih baik, menyesali sikap tanduk hidup kita yang salah, sembari belajar dari kesalahan-kesalahan yang kita buat dimasa lalu. Oleh karena itu, kadar merasa bersalah penting untuk dihidupi. Bukan dalam rangka menjadikan kekurangan, topeng mental. Buah menyesal belajar dari kehidupan. Sejatinya memperbaiki sebagai umpan balik, menciptakan pembelajaran untuk sikap hidup yang lebih purna. Selamat memetik buah dari pohon penyesalan yang ditumbuhkembangkan rasa bersalah. Jangan lupa pupuki sikap pembelajar. Sirami jiwa perbaikan untuk memetik buah dari pohan penyesalan.

Tentang Penulis

Boa""

Comments
0 Comments

Posting Komentar

 
Top