Horas Ma di hita sude Parmatiti Napuran tano-tano rangging marsiranggongan, Badan ta i padao-dao, tondita i marsigomgoman.
 

parmatiti parmatiti Author
Title: BERSUKACITALAH SENANTIASA
Author: parmatiti
Rating 5 of 5 Des:
BERSUKACITALAH SENANTIASA Jikalau hidup menjadi pengikut Kristus (Nasrani) itu enak, sudah tentu titah untuk bersuka...

BERSUKACITALAH SENANTIASA
Jikalau hidup menjadi pengikut Kristus (Nasrani) itu enak, sudah tentu titah untuk bersukacita senantiasa rasa-rasa tak perlu. Lalu, mengapa rasul Paulus menekankan perlunya bersukacitalah senantiasa? Tentu, bisa saja kita bersukacitalah sesaat, tetapi kalau disuruh senantiasa bersukacita, sudah tentu amat susah.
Bahkan, muskil kita lakukan. Dia, Paulus senantiasa sukacita menjalani hidup yang sulit, tak terpengaruh oleh situasi dan kondisi. Apa pun yang terjadi walau kehidupannya getir, runyam, Paulus tetap bersukacita. Dia sadar, sumbernya ada dalam dirinya, bersama Dia yang memberikan penghibur sejati.
Maka patut direnungkan oleh kita, mengapa kita sukar untuk bersukacita senantiasa? Bagaimanakah caranya agar kita dapat senantiasa bersukacita walau keadaan keadaan elusif? Kata kunci di sini adalah ada di dalam Tuhan. Di luar Tuhan mustahil kita becus senantiasa bersukacita.
Sukacita dari luar sementara, dan banyak orang terjebak oleh hiburan sesaat. Sejatinya pemberi sukacita sejati dariNya. Tuhan yang tak bisa kita lihat dengan kasat mata, tetapi kita bisa rasakan kehadiranNya setiap saat membawa kita pada sukacita. Lewat hati nurani kita, Dia menyapa kita. Lewat batin kita Dia ingatkan kita.
Alih-alih, bersukacitalah senantiasa dalam arti apapun yang terjadi dalam hidup ini, itu titahNya. Suka atau duka, laba atau rugi haruslah bersukacita. Demikianlah teladan yang ditorehkan Paulus, menjalani hari-hari hidupnya. Dan memang, kehendak Tuhan dalam hidup kita agar kita senantiasa bersukacita. Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan bukan berarti kita tak boleh bersedih, atau menangis. Menangis juga ternyata obat. Menangis bukan soal cegeng, tetapi terapi jiwa.
Maka, kalau orang menangis jangan langsung kita nilai karena cegeng. Itu sebabnya, banyak orang yang sejak kecil dipaksa untuk jangan menangis, lalu setelah besar kemarahannya “diam-diam” menggemparkan. Itu sebabnya, banyak orang di jalan raya yang marah, bukannya meluapkannya dengan tangisan, tetapi meluapkannya dengan “kaki” menginjak pegal gas mobil, hingga menambarak.
Namun, alangkah baiknya jika tangisan kita hanya kita sampaikan padaNya, sebab hanya Dialah yang mengerti. Akhirnya, saat kesulitan pun membebat kita, bahkan keruwetan menyengat, kita boleh menangis demi mengakui bahwa hanya dari Dialah sukacita sejati. Hojot Marluga

Tentang Penulis

Boa""

Comments
0 Comments

Posting Komentar

 
Top